9.8 C
London
Tuesday, February 20, 2024
HomeEducationWasiat Nabi Muhammad Agar Seseorang Dijaga dan Dibela Allah SWT

Wasiat Nabi Muhammad Agar Seseorang Dijaga dan Dibela Allah SWT

Date:

Related stories

Prabowo-Gibran Unggul Telak, Anies-Muhaimin dan Ganjar-Mahfud Disarankan Legowo, Sulit Buktikan Kecurangan TSM

TEMPO.CO, Jakarta – Direktur Eksekutif Institute for Democracy & Strategic Affairs...

4 Alasan Mengapa Nabi Isa yang Diperintahkan Allah untuk Membunuh Dajjal Jelang Kiamat

Nabi Isa merupakan salah satu nabi yang masih hidup hingga...

Apa yang Dimaksud dengan Masyarakat Islam yang Sebenar-benarnya?

Muhammadiyah memiliki visi yaitu terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya....

Bingung Doa Tak Kunjung Dikabulkan? Yuk Cek Rahasia Ini

Berdoa merupakan bagian penting dari sisi kehidupan manusia yang biasanya melibatkan meminta kebahagiaan,...

Makna Kesetaraan Gender dalam Kajian Islam

Kajian tentang gender berkembang pesat tidak hanya di kalangan...
spot_imgspot_img

Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah berpesan kepada Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhu. Rasulullah berpesan agar Abdullah bin Abbas menjaga hak dan perintah Allah SWT agar Allah SWT menjaga dan membela Abdullah bin Abbas.

Pesan Rasulullah SAW tersebut juga untuk umat manusia khususnya umat Islam yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Agar umat Islam mendapat penjagaan dari Allah SWT maka umat Islam harus menjaga hak dan perintah Allah SWT.

Abdullah bin Abbas radiyallahu anhu berkata, “Suatu hari aku pernah dibonceng Nabi Muhammad SAW (di atas kendaraan), lalu beliau (Rasulullah SAW) bersabda kepadaku: Wahai Ghulam, sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat. Jagalah (ketentuan, hak, perintah dan larangan) Allah, niscaya Dia akan menjagamu (dari gangguan dan hal-hal yang dibenci), jagalah Allah maka engkau akan dapati Dia dihadapanmu (membelamu).” 

“Jika engkau memohon maka mohonlah kepada Allah. Jika engkau meminta pertolongan maka mintalah pertolongan Allah. Ketahuilah bahwa sekiranya umat ini bersatu padu untuk memberikan satu manfaat kepadamu, sekali-kali mereka tidak akan bisa memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah bagimu. Sekiranya mereka bersatu padu untuk memberikan suatu mudharat kepadamu, sekali-kali mereka tidak akan bisa memberikan mudharat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah atasmu. Pena telah diangkat (kiasan dari ditetapkannya takdir sebelum penciptaan) dan lembaran-lembaran catatan telah kering (kiasan dari telah selesainya penulisan takdir).” (HR Imam At-Tirmidzi)

Wasiat yang baik ini termasuk dari sekian wasiat Rasulullah SAW yang beliau sampaikan kepada seorang ahli tafsir Alquran, Abdullah bin Abbas. Dalam peristiwa ini, terdapat isyarat tentang keagungan dan ketawadhuan sang penutup para Nabi yakni Nabi Muhammad SAW. 

Dalam buku Wasiat Rasul Buat Lelaki yang ditulis Muhammad Khalil Itani, dijelaskan bahwa dalam wasiat tersebut juga terdapat banyak pelajaran, nasihat, dan peringatan. 

Di antara sekian banyak pelajaran yang bisa diintisarikan dari wasiat ini adalah menggunakan waktu dan kesempatan untuk memberikan pelajaran dan nasihat yang baik. Wasiat ini telah diwasiatkan oleh Rasulullah SAW kepada Abdullah bin Abbas ketika beliau sedang memboncengnya dibelakang beliau. Padahal, kebanyakan manusia dalam keadaan semisal ini, mereka biasanya menggunakan untuk berbagai perkara yang bersifat hiburan dan kesenangan, seperti menggiring unta sambil berdendang dan lain sebagainya. Akan tetapi, Rasulullah SAW justru benar-benar memanfaatkan detik-detik tersebut serta berwasiat kepada Ibnu Abbas dengan wasiat yang ringkas lagi bermanfaat bagi dirinya dan juga bagi kita.

Wahai Ghulam, ini merupakan bentuk panggilan yang memiliki banyak faedah agung. Yang mana kamu bisa meminta perhatian lawan bicara dengan kata seru “wahai” agar ia menyambut kamu hingga ia bisa memperkirakan bahwa kamu akan menyampaikan suatu ucapan yang penting kepadanya.

“Sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat.” Bentuk kefasihan terdapat pada kata, “Sesungguhnya aku,” yakni bahwa Rasulullah SAW tidak mengatakan, “Aku” tapi beliau mengatakan “Sesungguhnya aku.” Sebagaimana firman Allah, “Berkata Isa: Sesungguhnya aku ini adalah hamba Allah.” 

Ucapan “sesungguhnya aku” dalam konteks ini menunjukkan kepada Abdullah bin Abbas, bahwa Rasulullah SAW yang merupakan seorang muallim (pengajar), murabbi (pendidik), serta sang pengajar kebaikan kepada manusia, beliau hendak mengajarkan kepadanya beberapa kalimat dan bukan hanya satu kata saja.

Selanjutnya, sabda Rasulullah SAW “wahai Ghulam” di dalamnya terdapat (sikap) lemah-lembut, yakni bahwa Rasulullah SAW memberikan nasihat dan petunjuk kepada seorang anak yang masih kecil. Hal itu dikarenakan berilmu di waktu masih kecil itu laksana mengukir di atas batu.

Bagaimana menjaga Allah? Wujudnya adalah dengan menjaga ketentuan-ketentuan Allah, menetapi perintah-perintah-Nya, dan tidak boleh melanggar apa yang Allah perintahkan. Siapa yang telah mengerjakannya, ia termasuk orang-orang yang menjaga ketentuan-ketentuan Allah SWT.

Sumber: Republika

Subscribe

- Never miss a story with notifications

- Gain full access to our premium content

- Browse free from up to 5 devices at once

Latest stories

spot_img