15.2 C
London
Monday, June 17, 2024
HomeEducationDua Jenis Musibah dalam Islam, Apakah Gunung Meletus Salah Satunya?

Dua Jenis Musibah dalam Islam, Apakah Gunung Meletus Salah Satunya?

Date:

Related stories

Wapres sebut ekonomi syariah bukan demi kepentingan umat Islam semata

Wakil Presiden (Wapres) Ma'ruf Amin menekankan bahwa ekonomi dan...

Kemenag Terbitkan Edaran Pembayaran Dam, Ini Tujuan dan Besaran Biayanya

Jakarta (Kemenag) --- Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah...

Menag Minta Tambahan Anggaran untuk Rumah Ibadah di IKN

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengusulkan tambahan anggaran sebesar Rp...

Kota Mojokerto Raih Terbaik 1 Kategori Penegakan Hukum dalam Penyuluh Agama Islam Award tingkat Jatim

Satu lagi sosok inspiratif dan berprestasi dari Kota Mojokerto,...

Catat, Ini Dokumen yang Harus Dimiliki Jemaah untuk Wukuf di Arafah

Ketua Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Nasrullah...
spot_imgspot_img

Gunung Marapi di Sumatera Barat erupsi. Dalam kacamata Islam, apakah ini disebut dengan musibah?

Adapun klasifikasi musibah, menurut KH Cholil Nafis, terbagi menjadi dua perkara. Pertama adalah musibah yang tidak bisa dihindari. Musibah jenis ini merupakan ketetapan Allah dengan maksud-maksud tertentu ketika menurunkannya. Contoh musibah ini antara lain gunung meletus dan juga tsunami.

Sedangkan musibah yang kedua adalah musibah yang bersumber dari manusia (ulah manusia). Musibah jenis ini sejatinya dapat ditangkal atau dihindari, namun menurut Kiai Cholil, karena manusia enggan memperbaikinya maka musibah tersebut terus terjadi.

“Misalnya banjir dan longsor, ini ada intervensi besar dari manusia,” kata Kiai Cholil kepada Republika, Senin (4/12/2023).

https://youtube.com/watch?v=FtQn3EPFayw%3Fautoplay%3D0

Intervensi serta kontribusi manusia dalam merusak alam merupakan salah satu pemicu jenis musibah ini. Tak hanya itu, musibah yang sesungguhnya bisa dihindari ini, harus menjadi perenungan dan muhasabah bagi siapapun manusia yang tertimpa.

Apabila musibah datang, maka agama memerintahkan umat Muslim untuk bersabar. Namun begitu, sabar saja tidak cukup. Perlu ada langkah perbaikan alias mengevaluasi diri.

“Barangkali perilaku hidup kita jorok, suka buang sampah sembarangan. Bisa jadi tata kelola airnya belum sempurna, atau bisa jadi karena diri kita terlalu banyak dosa, maka Allah beri teguran,” ujarnya.

Beliau menjabarkan dalam musibah banjir yang terjadi misalnya, manusia harus dapat bermuhasabah atas dosa-dosa yang pernah dilakukan. Adapun dosa, bukan hanya dosa yang dilakukan manusia lantaran tidak patuh dalam menjalankan ibadah, namun juga terdapat dosa yang terjadi lantaran perlakuan zalim kepada alam.

Sumber: Republika

Subscribe

- Never miss a story with notifications

- Gain full access to our premium content

- Browse free from up to 5 devices at once

Latest stories

spot_img