18.2 C
London
Saturday, July 13, 2024
HomeHistory5 Orang Berpengaruh yang Jadi Penyebar Agama Islam di Madura

5 Orang Berpengaruh yang Jadi Penyebar Agama Islam di Madura

Date:

Related stories

Wapres sebut ekonomi syariah bukan demi kepentingan umat Islam semata

Wakil Presiden (Wapres) Ma'ruf Amin menekankan bahwa ekonomi dan...

Kemenag Terbitkan Edaran Pembayaran Dam, Ini Tujuan dan Besaran Biayanya

Jakarta (Kemenag) --- Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah...

Menag Minta Tambahan Anggaran untuk Rumah Ibadah di IKN

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengusulkan tambahan anggaran sebesar Rp...

Kota Mojokerto Raih Terbaik 1 Kategori Penegakan Hukum dalam Penyuluh Agama Islam Award tingkat Jatim

Satu lagi sosok inspiratif dan berprestasi dari Kota Mojokerto,...

Catat, Ini Dokumen yang Harus Dimiliki Jemaah untuk Wukuf di Arafah

Ketua Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Nasrullah...
spot_imgspot_img

Surabaya – Islam adalah agama dengan penganut terbanyak di Indonesia. Populasi penduduk Muslim di Indonesia lebih banyak daripada Arab, yang merupakan negara pertama penyebar agama Islam.
Penyebaran ajaran Islam di Nusantara dimulai pada abad ke-7 M dan mengalami perkembangan secara meluas pada abad ke-12 M. Pulau Jawa menjadi wilayah yang sangat berpengaruh terhadap penyebaran agama Islam di Indonesia. Banyak tokoh dari Jawa berjasa dalam penyebaran ajaran Islam di Nusantara.

Pulau Madura merupakan salah satu pulau dengan mayoritas penduduk menganut agama Islam. Sebelum Islam datang ke Madura, masyarakat memeluk kepercayaan dari dinasti kerajaan Hindu.
Dikutip dari jurnal Sejarah Peradaban Islam di Pulau Madura karya Alfiandi Zikra dkk, masuknya Islam ke Pulau Madura berawal dari kedatangan para pedagang Islam dari Asia Tenggara, yang singgah di pelabuhan pantai Madura, terutama di Pelabuhan Kalianget.

Pada abad ke-15 M, penduduk pantai selatan Sumenep mulai mengenal ajaran Islam. Keyakinan mereka terhadap ajaran Islam disebarkan melalui daerah Prenduan, yakni kawasan perdagangan yang memiliki kaitan erat dengan daerah seberang.

Penyebaran ajaran Islam terjadi bersamaan dengan perluasan perdagangan. Para pedagang dari Gujarat, Malaka, dan Sumatra menjadi penyebar agama Islam pertama di Madura.

Pada tahap penyebaran Islam di wilayah pesisir lainnya dan pedesaan, para pedagang, ulama, beserta tokoh Wali Songo serta para muridnya berperan dalam menyebarkan ajaran tersebut.

Perubahan konversi Hindu-Buddha ke Islam terjadi pertama kali di antara masyarakat nelayan karena saat itu pelabuhan menjadi pusat perdagangan. Keterbukaan masyarakat pesisir terhadap ajaran yang datang dari luar maupun dalam mempermudah masuknya Islam di Jawa.

Sekitar abad ke-15, pengaruh Kerajaan Majapahit di Jawa Timur perlahan menghilang digantikan oleh ajaran yang dibawa oleh Sunan Ampel. Dalam upaya penyebaran agama Islam, Sunan Ampel mendirikan pusat pendidikan Islam menggunakan tradisi Jawa dan sebagainya.

Tokoh Penyebar Ajaran Islam dari Kalangan Penguasa Madura
Salah satu upaya yang dilakukan dalam menyebarkan ajaran Islam di Madura adalah dengan melakukan pembauran terhadap kalangan elit keraton. Di mana para penguasa Madura mengesahkan dirinya sebagai raja yang menganut agama Islam dan meletakkan syariat Islam ke dalam daerah kerajaan, sehingga rakyatnya akan lebih mudah menerima ajaran Islam.

Mengutip jurnal Islam di Madura karya Afif Amrullah, terdapat beberapa tokoh dari kalangan penguasa Madura yang memeluk agama Islam dan menjadi penyebar ajaran Rasulullah SAW. Berikut daftarnya.

1. Jokotole
Jokotole atau yang mempunyai gelar Soeoadiningrat III memerintah sekitar tahun 1415-1460 M. Di suatu daerah dekat Desa Parsanga, Sumenep, datanglah seorang penyiar agama Islam bernama Sunan Padusan yang masih memiliki silsilah kekerabatan dengan Sunan Ampel.

Sunan Padusan memberikan pendidikan Islam kepada rakyat Sumenep. Ia juga memandikan para santrinya yang dianggap telah dapat menerapkan rukun Islam dengan air campuran bunga, sehingga baunya menjadi sangat harum.

Karena itu, rakyat Sumenep merasa tertarik mempelajari Islam, hingga mempengaruhi rajanya. Jokotole pun memutuskan memeluk agama Islam. Ia juga menikahkan Sunan Padusan dengan putrinya, dan keduanya tinggal di Keraton Batu Putih. Sejak itu, agama Islam mengalami perkembangan yang cukup pesat.

2. Lembu Peteng
Lembu Peteng adalah seorang penguasa di wilayah Madura. Ia mengutus seorang penggawanya untuk mempelajari agama Islam, lalu punggawa tersebut telah memeluk agama Islam terlebih dahulu sebelum dirinya.

Lembu Peteng menghampiri Sunan Ampel di kediamannya untuk membunuhnya. Ia menganggap Sunan Ampel telah menghasut masyarakat Majapahit agar memeluk agama Islam.

Namun, setibanya di sana, Lembu Peteng menyadari kebenaran yang dibawa oleh Sunan Ampel. Lembu Peteng akhirnya memutuskan untuk mempelajari agama Islam dengan berguru pada Sunan Ampel, hingga meninggal di sana.

3. Arya Menak Sunoyo
Arya Menak Sunoyo adalah penguasa wilayah Jambringin (Proppo). Ayahnya merupakan seorang penganut ajaran Islam yang taat. Ia pun menjadi tokoh yang menyebarkan Islam di Madura.

Tetapi, ia tidak dapat mengembangkan ajaran Islam di kalangan rakyat yang masih terpengaruh ajaran Hindu-Buddha yang sangat kuat. Karena tidak dapat hidup di lingkungan masyarakat yang berbeda agama, ia memutuskan berpindah ke wilayah Lumajang.

4. Bonorogo
Bonorogo adalah ayah dari Ronggosukowati, seorang penguasa Pamelingan atau Pamekasan. Ia dikenal sebagai penguasa yang memeluk agama Islam, meskipun tidak ditunjukkan secara terang-terangan kepada masyarakat. Bahkan ketika dirinya meninggal, ia disemayamkan sesuai syariat Islam.

Baca juga:
Sunan Kalijaga, Tokoh Keramat Asal Tuban Pelindung Jawa

5. Ki Arya Praghatha
Ki Arya Praghatha memiliki garis keturunan dengan Ki Demang Palakaran, seorang penguasa Arosbaya atau Bangkalan. Ki Arya Praghatha menggantikan kedudukan sang ayah sebagai penguasa. Pada masa pemerintahannya, ia mengutus patih Mpu Bagenno untuk mempelajari agama Islam dengan berguru pada Sunan Kudus.

Namun, Ki Arya Praghatha marah ketika Mpu Bagenno memeluk agama Islam mendahului dirinya. Sang patih pun diberi hukuman mati. Namun, putranya Pengeran Pratanu atau Lemah Duwur memohon supaya sang patih dibebaskan, sehingga Ki Arya Praghatha mengampuninya.

Ketika ia meninggal dunia, Pangeran Pratanu meminta sang ayah agar segera memeluk agama Islam dengan mengucapkan kalimat syahadat, akan tetapi ayahnya hanya menganggukkan kepalanya. Sebab itu, Ki Arya Praghatha disebut sebagai Pangeran Islam Ongguk.

Sumber: Suara

Subscribe

- Never miss a story with notifications

- Gain full access to our premium content

- Browse free from up to 5 devices at once

Latest stories

spot_img