10.3 C
London
Wednesday, April 17, 2024
HomeEconomyApindo Waspadai Kenakan Bunga Fed Tekan Ekonomi Indonesia

Apindo Waspadai Kenakan Bunga Fed Tekan Ekonomi Indonesia

Date:

Related stories

10 Kerajaan Islam Tertua di RI, Ada yang Dekat dengan Selat Muria

Jakarta, CNBC Indonesia- Kerajaan Islam pernah menguasai Nusantara dan...

Film Kiblat Arahan Sutradara Bobby Prasetyo Memicu Kontroversi, Begini Sepak Terjangnya di Dunia Perfilman

Kontroversi film Kiblat arahan sutradara Bobby Prasetyo masih hangat dibicarakan oleh banyak orang...

Prabowo-Gibran Unggul Telak, Anies-Muhaimin dan Ganjar-Mahfud Disarankan Legowo, Sulit Buktikan Kecurangan TSM

TEMPO.CO, Jakarta – Direktur Eksekutif Institute for Democracy & Strategic Affairs...

4 Alasan Mengapa Nabi Isa yang Diperintahkan Allah untuk Membunuh Dajjal Jelang Kiamat

Nabi Isa merupakan salah satu nabi yang masih hidup hingga...

Apa yang Dimaksud dengan Masyarakat Islam yang Sebenar-benarnya?

Muhammadiyah memiliki visi yaitu terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya....
spot_imgspot_img


Jakarta, Beritasatu.com – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai kebijakan suku bunga tinggi Bank Sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed) yang cenderung hawkish akan memberikan tekanan lebih besar pada perekonomian Indonesia.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengatakan Indonesia akan jauh lebih sulit mempertahankan stabilitas ekonomi makro dan moneter bila suku bunga Bank Indonesia (BI) tidak ikut dinaikkan. Namun bila bunga BI dinaikkan sama dengan kecepatan the Fed, Indonesia akan kehilangan momentum pertumbuhan dan terdesak memasuki kondisi stagflasi.

“Arus pendanaan/investasi global akan semakin tersendat dan pelaku usaha menahan investasi dan ekspansi karena proyeksi beban usaha lebih tinggi sehingga penciptaan lapangan kerja rendah, bahkan mungkin menyebabkan PHK (pemutusan hubungan kerja). Sebab pengusaha harus meningkatkan efisiensi dan memastikan survival usaha,” kata Shinta saat dihubungi Investor Daily pada Rabu (08/03/2023)

Sebelumnya di depan Komite Perbankan Senat AS, Selasa (7/3/2023) Gubernur Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell mengejutkan kalangan investor dengan memberikan pernyataan bahwa suku bunga mungkin perlu naik lebih cepat dan lebih tinggi dari perkiraan untuk mengendalikan inflasi. Sementara itu FOMC Meeting selanjutnya berlangsung pada 21-22 Maret 2023.

Shinta menyarankan agar BI dapat menahan kenaikan suku bunga dan menyesuaikan kecepatan mengerek suku bunga secara lebih moderat dan berimbang. Tujuannya, untuk pengendalian inflasi nasional dan penciptaan stabilitas moneter nasional. BI juga perlu memaksimalkan instrumen alternatif yang berkontribusi terhadap pengendalian inflasi dan stabilitas nilai tukar selain menaikkan suku bunga acuan.

“Hal ini bisa dilakukan dengan berbagai cara seperti menginsentifkan pengendapan dana asing atau valas di berbagai instrumen finansial nasional, meningkatkan market akses investasi, fasilitasi serta insentif investasi di sektor-sektor investasi produktif,” kata dia.

Dia berpendapat ketentuan minimal spread suku bunga BI prinsipnya mengikuti kebutuhan stabilitas makro ekonomi dan moneter domestik. Langkah ini untuk meningkatkan daya tarik rupiah. Hal yang lebih penting sebenarnya suku bunga dapat menciptakan produktivitas ekonomi domestik, khususnya ekspor barang dan jasa, penciptaan cadangan devisa untuk membiayai external debt termasuk pembiayaan impor.

Sumber : BeritaSatu

Subscribe

- Never miss a story with notifications

- Gain full access to our premium content

- Browse free from up to 5 devices at once

Latest stories

spot_img