18.2 C
London
Saturday, July 13, 2024
HomeEducationMencari Asal Kata 'Santri', dari Bahasa Arab atau Sanskerta?

Mencari Asal Kata ‘Santri’, dari Bahasa Arab atau Sanskerta?

Date:

Related stories

Wapres sebut ekonomi syariah bukan demi kepentingan umat Islam semata

Wakil Presiden (Wapres) Ma'ruf Amin menekankan bahwa ekonomi dan...

Kemenag Terbitkan Edaran Pembayaran Dam, Ini Tujuan dan Besaran Biayanya

Jakarta (Kemenag) --- Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah...

Menag Minta Tambahan Anggaran untuk Rumah Ibadah di IKN

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengusulkan tambahan anggaran sebesar Rp...

Kota Mojokerto Raih Terbaik 1 Kategori Penegakan Hukum dalam Penyuluh Agama Islam Award tingkat Jatim

Satu lagi sosok inspiratif dan berprestasi dari Kota Mojokerto,...

Catat, Ini Dokumen yang Harus Dimiliki Jemaah untuk Wukuf di Arafah

Ketua Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Nasrullah...
spot_imgspot_img

Kata ‘santri’ menunjukkan seseorang yang sedang belajar ilmu agama. Jika ditanya apa kata yang sangat popular dan melekat dalam dunia pendidikan Islam, maka kata santri yang sangat popular. 

Kata santri sudah sangat lama digunakan seiring dengan kata pesantren yang menunjuk pada lembaga pendidikan. Pada mulanya, kata santri melekat pada orang yang tinggal di lembaga pendidikan Islam dan mengikuti kiai. 

Kemudian, beberapa orang dan cendekiawan mencoba mengartikan apa makna filosofi dari kata santri. Terdapat beberapa rumusan yang dapat dibaca dari kata santri itu. 

Misalnya, almarhum KH Sahal Mahfudz pernah menyampaikan kata santri berasal dari bahasa Arab yang berarti “santaro” dan jamaknya “sanaatiir” kata itu terdiri dari huruf sin, nun, ta, dan ra. Huruf-huruf itu mengandung makna, sebagai berikut. 

Sin artinya satrul aurah (menutup aurat). Santri sebagaimana kita lihat pasti berpakaian yang menutup auratnya. Aurat di sini bisa bermakna dhahir dan batin. 

Menutup aurat dhahir adalah gambaran yang kita lihat, misalnya tercermin pada pakaian santri. Adapun secara batin maknanya masih terus dieksplorasi karena batin tidak tampak atau tersirat.

Nun artinya sebagai na-ibul ulama (wakil ulama). Berbeda dengan ulama yang merupakan pewaris Nabi, al-ulama warasatul anbiya

Dalam konteks sebagai wakil ulama, santri harusnya mencerminkan sikap-sikap yang dimiliki oleh ulama. Seperti peka dan respons terhadap keadaan sekeliling. 

Mengikuti perkembangan zaman karena ulama di antaranya harus memutuskan masalah-masalah keagamaan pada masyarakat, karena situasi yang berubah-ubah. Santri memiliki potensi yang besar, karenanya santri layak menyandang nama wakil ulama.

Ta artinya tarkul ma’ashi (meninggalkan kemaksiatan). Diharapkan dengan pelajaran keagamaan yang diterimanya, seorang santri bisa konsisten mengamalkan agamanya dan menjauhi maksiat karena sudah mendapatkan pelajaran.

Definisi yang lain datang juga dari KH Hasani Nawawie, pengasuh Pesantren Sidogiri Pasuruan Jawa Timur. Definisi santri tidak pernah berubah sepanjang zaman.

“Santri, berdasarkan peninjauan tindak langkahnya adalah orang yang berpegang teguh dengan Alquran dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW serta teguh pendirian. Ini adalah arti dengan bersandarkan pada sejarah dan kenyataan yang tidak dapat diganti dan diubah selama-lamanya. Allah-lah Yang Maha Mengetahui atas kebenaran sesuatu dan kenyataannya,” katanya.

Namun, cendekiawan Nurcholish Madjid mempunyai pendapat lain. Menurut dia, kata santri itu asalnya dari bahasa Sanskerta, yakni sastri yang artinya orang yang bisa membaca. 

Kedua, berasal dari bahasa Jawa, yaitu “cantrik” artinya seseorang yang mengikuti kiai di mana pun ia pergi dan menetap untuk menguasai suatu keahlian tersendiri. Dari banyak yang mengartikan, baik dari bahasa Inggris, Arab maupun Sanskerta, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memberi makna santri yang kontekstual. 

Menurut KBBI, kata santri berarti orang yang mendalami agama Islam, orang yang beribadah dengan sungguh-sungguh (orang yang saleh), dan orang yang mendalami pengajiannya dalam agama Islam dengan berguru ke tempat yang jauh seperti pesantren dan lain sebagainya.

Dilansir dari buku Ensiklopedi Islam Nusantara Edisi Budaya diterbitkan Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama (Kemenag), 2018.

Sumber: Republika

Subscribe

- Never miss a story with notifications

- Gain full access to our premium content

- Browse free from up to 5 devices at once

Latest stories

spot_img