18.2 C
London
Friday, June 14, 2024
HomeAsiaAnwar Ibrahim Sindir Nasib 'OPEC' Sawit RI-Malaysia Tak Jelas

Anwar Ibrahim Sindir Nasib ‘OPEC’ Sawit RI-Malaysia Tak Jelas

Date:

Related stories

Kemenag Terbitkan Edaran Pembayaran Dam, Ini Tujuan dan Besaran Biayanya

Jakarta (Kemenag) --- Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah...

Menag Minta Tambahan Anggaran untuk Rumah Ibadah di IKN

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengusulkan tambahan anggaran sebesar Rp...

Kota Mojokerto Raih Terbaik 1 Kategori Penegakan Hukum dalam Penyuluh Agama Islam Award tingkat Jatim

Satu lagi sosok inspiratif dan berprestasi dari Kota Mojokerto,...

Catat, Ini Dokumen yang Harus Dimiliki Jemaah untuk Wukuf di Arafah

Ketua Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Nasrullah...

Luhut ajak publik ikut awasi ormas keagamaan kelola tambang

Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan...
spot_imgspot_img

Perdana Menteri Malaysia Dato’ Seri Anwar Ibrahim mengatakan, Malaysia akan mendukung Indonesia dalam Keketuaan Asean tahun 2023. Dia mengatakan, dibutuhkan kerja sama yang erat, termasuk antara Indonesia-Malaysia, meski tak harus langsung membuat mata uang bersama ‘melawan’ dolar AS.

Hal itu disampaikan Anwar saat menjawab pertanyaan terkait ketergantungan akan dolar AS dan bagaimana Indonesia-Malaysia harus mengatasinya, dalam CT Leadership Forum, Senin (9/1/2023).

Dia pun mencontohkan posisi Indonesia dan Malaysia sebagai produsen minyak sawit dunia. Hingga kemudian membentuk Dewan Produsen CPO (crude palm oil/ minyak sawit mentah) atau Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) pada 21 November 2015. CPOPC beranggotakan Malaysia dan Indonesia. Serta, 4 negara Pengamat/Observer Countries, yaitu Kolombia, Ghana, Honduras, dan Papua Nugini.

Anwar menilai, organisasi yang dibentuk 8 tahun lalu ini seolah ‘tak bergigi’, tak bisa menegakkan kerja sama di antara negara Asean, bahkan sebagai sesama penguasa minyak sawit dunia.

Seharusnya, ujar Anwar, CPOPC bisa berperan sebagai Organisasi serupa OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries/ organisasi negara pengekspor minyak dunia) di bidang CPO. Dan, seharusnya bisa jadi cikal-bakal kerja sama yang erat di antara negara-negara Asean.

“Common currency (mata uang bersama) ini memang jauh sedikit. Kalau EU pada masa itu terlalu panjang itu Euro, tapi saya tidak pikir ke arah itu. Tapi, criticalnya apa? Ya kerja sama yang benar-benar erat, a common concerted-effect, satu strategi bersama,” kata Anwar.

“Umpamanya kelapa sawit. Indonesia sekitar 68% keluarannya (produksi CPO), kedua Malaysia. Kalau kita ada kesepakatan itu, OPEC dalam kelapa sawit. Cuma, sudah diwujudkan sejak 2015 tapi tidak berkembang,” tambahnya.

Hal itu, kata dia, karena baik kedua negara tak memiliki tindakan yang tegas sebagai penguasa CPO dunia.

“Masing-masing lembab sedikit dalam tindakannya,” kata Anwar.

Bidang lain yang seharusnya bisa jadi ajang kerja sama kuat antara Indonesia dan Malaysia, imbuhnya, terkait renewable energy atau energi terbarukan.

“Indonesia kuat, Malaysia masih ada. Kalau kita gabung tenaganya, kita boleh terdepan. Asean ini sedikit buram. Jadi, saya berikan jaminan, Malaysia berikan seluruh dukungan supaya kepemimpinan Indonesia tahun ini cukup berkesan. Apa yang perlu kita lakukan, kita lakukan bersama,” katanya.

“Itu maksimal yang kita lakukan,” tegas Anwar.

Subscribe

- Never miss a story with notifications

- Gain full access to our premium content

- Browse free from up to 5 devices at once

Latest stories

spot_img