12.3 C
London
Monday, May 27, 2024
HomeGlobal NewsTerpesona Keindahan Islam, Samuel Shropshire Bersyahadat

Terpesona Keindahan Islam, Samuel Shropshire Bersyahadat

Date:

Related stories

10 Kerajaan Islam Tertua di RI, Ada yang Dekat dengan Selat Muria

Jakarta, CNBC Indonesia- Kerajaan Islam pernah menguasai Nusantara dan...

Film Kiblat Arahan Sutradara Bobby Prasetyo Memicu Kontroversi, Begini Sepak Terjangnya di Dunia Perfilman

Kontroversi film Kiblat arahan sutradara Bobby Prasetyo masih hangat dibicarakan oleh banyak orang...

Prabowo-Gibran Unggul Telak, Anies-Muhaimin dan Ganjar-Mahfud Disarankan Legowo, Sulit Buktikan Kecurangan TSM

TEMPO.CO, Jakarta – Direktur Eksekutif Institute for Democracy & Strategic Affairs...

4 Alasan Mengapa Nabi Isa yang Diperintahkan Allah untuk Membunuh Dajjal Jelang Kiamat

Nabi Isa merupakan salah satu nabi yang masih hidup hingga...

Apa yang Dimaksud dengan Masyarakat Islam yang Sebenar-benarnya?

Muhammadiyah memiliki visi yaitu terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya....
spot_imgspot_img


Mualaf dari Amerika Serikat ini menemukan keindahan Islam kala bekerja di Arab Saudi.

Seperti banyak orang Amerika Serikat (AS), Samuel Earle Shropshire pada mulanya tidak begitu mengacuhkan Islam. Baginya, agama tersebut dan para pemeluknya bukanlah bagian dari kesehariannya. Dan, sejak peristiwa serangan terorisme 11 September 2001 (9/11), persepsinya mengenai Islam kian diwarnai sinisme.

Siaran televisi di Negeri Paman Sam pada masa-masa pasca-9/11 kerap tendensius. Mereka menayangkan berita sensasional yang mengaitkan Islam dengan terorisme demi meningkatkan rating. Setiap 30 menit sekali, selalu saja ada pemberitaan tentang konflik. Termasuk yang terjadi di Timur Tengah, kawasan yang acap kali dianggap pusat umat Islam global. Antara satu kelompok Muslim dan kelompok Muslim lainnya diwartakan terlibat pertentangan.

Ketika itu, Shropshire sempat berpandangan buruk tentang Islam. Ia merasa heran, bagaimana mungkin ajaran yang demikian diberitakan buruk masih ada pada zaman modern? Tak terbesit sedikit pun pemikiran untuk mempelajari, apalagi memeluk agama tersebut.

Kebetulan, Shropshire ketika itu bekerja sebagai seorang pakar bahasa Inggris. Reputasinya dikenal hingga ke luar AS. Pada suatu kali, koleganya yang bernama Safi Kaskas meminta bantuan dirinya. Kawannya itu sedang mengerjakan sebuah proyek penerjemahan Alquran di Arab Saudi. Setelah sepakat tentang berbagai hal teknis, berangkatlah Shropshire ke negeri kerajaan tersebut.

Melalui proyek ini, Kaskas hendak menghadirkan terjemahan Alquran dalam bahasa Inggris. Hasilnya diharapkan dapat menarik perhatian generasi muda Amerika, baik yang beragama Islam maupun tidak. Ketika itu, Shropshire tidak ikut menerjemahkan kitab suci tersebut karena dirinya tidak bisa berbahasa Arab. Tugasnya hanya memeriksa tata bahasa Inggris hasil terjemahan Alquran itu sehingga enak dibaca dan tidak terdapat kekeliruan ataupun salah eja.

Karena tuntutan pekerjaan, Shropshire akhirnya membaca ayat demi ayat.

Karena tuntutan pekerjaan, Shropshire akhirnya membaca ayat demi ayat. Walaupun yang dibacanya hanyalah teks terjemahan Alquran, pesan-pesan dalam kandungan kitab suci itu pada akhirnya menyentuh hati pria Amerika tersebut.

“Seperti yang bisa dibayangkan, karena tidak memiliki pengetahuan Islam, saya memiliki ratusan pertanyaan. Saya terkejut, saat membaca (terjemahan Alquran), kemudian menemukan Yesus (Nabi Isa) banyak disebutkan dalam Alquran,” tutur dia, seperti dilansir Islamic Lecture beberapa waktu lalu.

Alquran mengisahkan Nabi Isa dikisahkan sebagai salah seorang utusan Allah. Kitab suci tersebut juga menceritakan perihal ibunda sang nabi, Maria (Maryam). Bahkan, nama perempuan mulia itu menjadi nama sebuah surah Alquran. Bagi Shropshire, hal itu mengejutkannya dan sekaligus membuat hatinya tersentuh.

Ia penasaran, bagaimana mungkin sosok Nabi Isa banyak diceritakan dalam kitab sucinya orang Islam? Bahkan, ada berbagai kisah tokoh tersebut yang jauh lebih mendetail disampaikan dalam Alquran, alih-alih Alkitab. Seorang kawannya yang Muslim mengatakan, Nabi Muhammad SAW dan Nabi Isa adalah bersaudara, yakni sama-sama keturunan Nabi Ibrahim (Abraham) dan sekaligus utusan Tuhan.

Terpukau melihat shalat

Usai jam kantor, setiap malam Samuel Shropshire banyak menghabiskan waktu sendirian di kamar tidur. Dia selalu berdiri di balkon untuk melihat apa yang terjadi di luar. Jalan raya yang ramai dan sebuah masjid menjadi pemandangan rutin di kota tempatnya bekerja di Arab Saudi.

Selanjutnya, dia selalu mendengar adzan. Usai panggilan yang menggema dari menara-menara masjid, tampak para pria dan wanita berbondong-bondong pergi. Beberapa lama kemudian, mereka kembali ke rumah masing-masing. Beberapa anak berhenti sejenak di lapangan untuk sekadar bermain bola.

Menara masjid, terlihat seperti gereja khas di Amerika. Tetapi anehnya, Shropshire sangat merindukan masjid. Bahkan, ia pun ingin pergi ke sana.

Beberapa bulan kemudian, Samuel memberanikan diri menyusuri jalan dan mengetuk pintu Masjid at-Taqwa.

Beberapa bulan kemudian, Samuel memberanikan diri menyusuri jalan dan mengetuk pintu Masjid at-Taqwa. Padahal biasanya orang tidak harus mengetuk pintu untuk masuk masjid. Toh jamaah hanya perlu melewti gerbang dan langsung berjalan ke ruang shalat.

Namun, dia ragu bahwa kehadirannya akan diterima di masjid. Sehingga dia mengetuk pintu terlebih dahulu sampai ada yang menyapanya. Seseorang kemudian menghampirinya. Lelaki yang menyambut kedatangannya itu belakangan diketahui bernama Syafi’i.

Samuel Shropshire pun mengatakan nama dan asalnya kemudian meminta izin untuk masuk masjid. Syafi’i merupakan muazin masjid tersebut yang kemudian mengulurkan tangan dan memeluknya. Lelaki Muslim ini mempersilakan Samuel masuk. Dia duduk di belakang shaf jamaah yang sedang shalat.

photo

Selama jamaah mendirikan ibadah, Shropshire hanya menyaksikan. Tidak mengerti apa kata-kata yang mereka lafalkan. Mereka bergerak dengan pola-pola yang teratur: mulai dari berdiri, membungkuk, bersujud, dan duduk seperti berlutut di lantai. Orang-orang ini mengikuti seorang yang memimpin mereka di depan. “Saya hanya sedikit mengerti apa yang terjadi, tetapi saya merasa bahwa mereka terhubung dengan Tuhan selama melakukan itu (shalat),” kenangnya.

Selama berada di masjid, Samuel merasa nyaman. Terlebih lagi, jamaah sangat ramah dengannya. Mereka sama sekali tidak mempersoalkan bahwa dirinya bukanlah seorang Muslim.

photo

Tersentuh al-Fatihah

Setelah tiga hari berada di masjid, Samuel bertanya pada Syafi’i tentang surah pertama Alquran, Alfatihah. Dia pun meminta Syafi’i mengajarkannya karena bacaan penting ketika shalat lima waktu.

Dia bisa menghafalkan surah al- Fatihah, tetapi tidak mengerti artinya, kemudian dia mulai membaca terjemahan dan menyadari bahwa dalam surah tersebut juga diajarkan dalam agama sebelumnya. Dia tersentuh dengan ayat pertama al-Fatihah yang berbunyi dengan menyebut nama Allah Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang. “Hatiku tersentuh dengan kata-kata dalam Alquran dan cinta yang diberikan jamaah masjid,” jelas dia.

Samuel kemudian diarahkan untuk mendatangi Yayasan Pendidikan Islam Al-Hamra Jeddah. Di sana dia melihat anak-anak bersemangat mempelajari Islam. Tak ada satu pun ajaran radikal atau pun doktrin terorisme yang diajarkan di sana.

Dalam Islam, semua manusia sederajat. Orang kaya dan miskin, pejabat dan orang awam, aparat dan sipil, adalah sama. Yang membedakan tiap orang hanyalah takwa. Hal itu semakin membuatnya takjub, sehingga dia mengucapkan syahadat, berikrar memeluk Islam.

Hal itu semakin membuatnya takjub, sehingga dia mengucapkan syahadat, berikrar memeluk Islam.

Setelah memeluk Islam, dia mulai mempelajari dasar tauhid dan mendalami pengetahuan ihwal rukun Iman. Ajaran iman ini sepenuhnya konsisten dengan sifat manusia. Tetapi dia bertanya-tanya bagaimana menja lani kehidupan sebagai Muslim.

Pencarian dia terhenti kepada rukun Islam. Untuk membuktikan seseorang adalah Muslim maka dia harus bersyahadat. Kemudian shalat yang menjadi bagian penting dari kehidupan. Muslim berusaha untuk menjaga shalat lima waktu setiap hari.

Ketiga berzakat. Setiap tahun seseorang yang memiliki harta tersimpan wajib menzakat sebesar 2,5 persen yang di bayarkan. Keempat, Puasa adalah bagian penting dari kehidupan umat Islam. Muslim berpuasa selama bulan Ramadhan.

Mereka melakukan ini setiap tahun, berpantang dari makanan, minuman, dan hubungan suami-istri dari fajar sampai terbenam. Seseorang juga harus menahan diri dari argumen yang sia-sia, pertengkaran, dan hal-hal yang terlarang.

Bulan ini memberikan peningkatan spiritual yang unik bagi semua umat Islam. Kelima ziarah atau haji. Hal ini dilakukan di Tanah Suci. Ini adalah tugas setidaknya satu kali dalam seumur hidup. Syaratnya memiliki kemampuan secara fisik dan finansial.

Sering orang menanyakan Samuel alasan dia menjadi Muslim. Dia pun terkenang dengan kisah masa kecilnya bersama sang ibu. Suatu hari dia mengunjungi perpustakaan. Di sana dia menemukan sebuah buku yang dipajang dengan judul The God of Abraham. Ibunya selalu membacakan cerita di dalamnya setiap datang.

Dalam buku itu, terdapat foto unta dan gurun yang indah. Dia membacakan kisah Nabi Ibrahim, bagaimana diperintahkan oleh Allah untuk meninggalkan ibu dan ayahnya karena menyembah berhala. Ibunya kemudian terhenti membaca dan berkata pada Samuel.

“Sam, kamu harus berdoa kepada Tuhannya Abraham. Hanya ada satu Tuhan. Tuhannya Abraham,” kata Samuel Shropshire menirukan nasihat ibunya.

Ternyata komitmen dia mengimani Allah, sudah sejak muda tertanam. Saat ini dia telah menemukan kedamaian dalam Islam yang dulu pernah dianggap sebagai musuh. Dia juga menemukan persahabatan di antara sesama Muslim.

Sumber: Republika

Subscribe

- Never miss a story with notifications

- Gain full access to our premium content

- Browse free from up to 5 devices at once

Latest stories

spot_img