15.2 C
London
Tuesday, June 18, 2024
HomeEducationResep Bahagia Menurut Imam Ghazali

Resep Bahagia Menurut Imam Ghazali

Date:

Related stories

Wapres sebut ekonomi syariah bukan demi kepentingan umat Islam semata

Wakil Presiden (Wapres) Ma'ruf Amin menekankan bahwa ekonomi dan...

Kemenag Terbitkan Edaran Pembayaran Dam, Ini Tujuan dan Besaran Biayanya

Jakarta (Kemenag) --- Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah...

Menag Minta Tambahan Anggaran untuk Rumah Ibadah di IKN

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengusulkan tambahan anggaran sebesar Rp...

Kota Mojokerto Raih Terbaik 1 Kategori Penegakan Hukum dalam Penyuluh Agama Islam Award tingkat Jatim

Satu lagi sosok inspiratif dan berprestasi dari Kota Mojokerto,...

Catat, Ini Dokumen yang Harus Dimiliki Jemaah untuk Wukuf di Arafah

Ketua Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Nasrullah...
spot_imgspot_img

Buku ini cukup unik karena merangkum tulisan-tulisan bertema kebahagiaan dari delapan karya Imam al-Ghazali.

Setiap orang di dunia ini cenderung menginginkan kebahagiaan. Bagi seorang Muslim, perasaan bahagia tidak hanya dimaknai dari perspektif duniawi. Sebab, ia meyakini adanya kehidupan sesudah kematian. Dan, di negeri akhirat itulah ada kehidupan yang sebenar-benarnya (QS al-Ankabut: 64).

Maka dari itu, Nabi Muhammad SAW mengajarkan kaum Muslimin untuk berdoa, mengharapkan kebaikan bukan hanya di dunia kini, tetapi juga akhirat nanti. Alhasil, yang menjadi penanda kebahagiaan bukanlah semata-mata perkara kebendaan. Lebih dari itu, para ulama menganjurkan umat untuk mengejar kebahagiaan yang hakiki.

Dalam khazanah sejarah Islam, banyak sekali alim yang menulis kitab tentang cara-cara mencapai puncak kebahagiaan. Salah satunya ialah sang Hujjatul Islam, yakni Imam al-Ghazali. Pakar tasawuf itu lahir di Kota Tus, Khurasan (Iran), pada 1058 M. Sejak masih kecil, dirinya sudah berstatus yatim. Namun, kondisi yang ada tidak menyurutkan semangatnya.

Di antara kesibukan yang disenanginya ialah belajar. Al-Ghazali berkesempatan mengenyam pendidikan yang sangat berkualitas mulai dari usianya belia. Berbagai cabang ilmu agama Islam dipelajarinya. Rihlah keilmuan dilakukannya di banyak kota, seperti Gurjan, Nishapur, dan Baghdad.

Saat berusia 33 tahun, penguasa setempat mengangkatnya sebagai pimpinan Madrasah Nizamiyah Baghdad. Bisa dikatakan, inilah puncak kariernya sebagai seorang ahli ilmu. Di sana, dirinya dapat dengan mengajar para murid yang datang dari pelbagai penjuru dunia. Di samping itu, waktunya semakin leluasa untuk menulis dan berkarya.

Akan tetapi, baru empat tahun memimpin universitas itu, al-Ghazali dilanda kegalauan. Batinnya tidak bahagia. Sebab, ia mengalami krisis spiritual dan intelektual yang sangat serius sesudah mendalami ilmu kalam, khususnya dari Syekh al-Juwaini. Disiplin itu membahas berbagai aliran yang kadang kala satu sama lain berkontradiksi.

Rektor Nizamiyah Baghdad itu merasa, sudah tiba waktu baginya untuk mencari kebenaran yang sesungguhnya. Dia meyakini, pengetahuan yang diperoleh melalui pancaindera tak dapat dipercaya. Sebab, kelima indra bisa saja keliru. Kepercayaannya bahwa pengetahuan yang pasti bisa diperoleh melalui akal juga kian tergerus.

Akal rasional dan metode empiris, menurutnya, ternyata tidak bisa diandalkan sebagai jalan menuju kebenaran. Satu-satunya pilihan yang baginya terbuka lebar ialah tasawuf. Begitulah curahan hatinya, seperti termaktub dalam karangannya, Al-Munqidz Mina adh-Dhalal.

Pada 1905, al-Ghazali meletakkan jabatan di Akademi Nizamiyah. Ia mengembara dari satu tempat ke tempat lain. Rihlah itu ditempuhnya untuk memalingkan hati dan pikiran dari kekayaan, pangkat, popularitas, dan segala pernak-pernik duniawi. Justru, dengan itulah dirinya merasa kebahagiaan bisa diraih.

photo

Kimia kebahagiaan

Bagi umat Islam, khususnya Muslimin di Indonesia, sosok Imam al-Ghazali tersohor akan karya monumentalnya, Ihya Ulum ad-Din. Namun, masih banyak kitab selain itu yang juga ditulis oleh sang mujadid. Di antara buku-bukunya yang menyinggung tentang tema kebahagiaan ialah Kimiya as-Sa’adah (Proses Kebahagiaan), Ayyuha al-Walad (Wahai Anakku), Ar-Risalah al-Wa’dziyyah (Untaian Nasihat Keimanan), Mi’raj as-Salikin (Tangga-tangga Para Salik), Misykat al-Anwar (Cahaya di Atas Cahaya), Minhaj al-Arifin (Jalan Para Pencari Tuhan), Al-Adab fi ad-Din (Etika Beragama), dan Risalah ath-Thair (Risalah Burung).

Kedelapan kitab itu telah diterjemahkan secara terpadu oleh Penerbit Turos Pustaka. Hasilnya ialah buku berjudul Resep Bahagia Imam al-Ghazali. Seperti tampak pada sampulnya, kumpulan naskah itu berupaya menawarkan gagasan tentang upaya merasakan kebahagiaan, menurut sang Hujjatul Islam.

Buku ini diawali dengan pembahasan tentang proses kebahagiaan. Rujukannya ialah Kimiya as-Sa’adah. Pada bagian ini, pembaca diajak untuk berkenalan dengan makna kimiya yang dikaitkan dengan kebahagiaan. Konsep itu digagas al-Ghazali.

Kimiya merupakan sebuah istilah pada masa sang penulis untuk menggambarkan proses pengubahan sesuatu yang tidak berharga menjadi logam mulia, semisal emas atau perak. Karena itu, al-Ghazali menggunakan istilah ini untuk menggambarkan proses transisi atau transformasi manusia dari makhluk yang hina menjadi yang mulia.

Sang imam menjelaskan, maksud dari kimiya adalah menanggalkan segala kekurangan dan mengenakan segala sifat kesempurnaan. Karena itu, lanjut dia, hendaknya setiap insan kembali menuju Allah SWT, Zat Yang Mahasempurna. Dengan perkataan lain, untuk mencapai kebahagiaan seseorang mesti selalu berupaya dekat dengan-Nya.

Menurut al-Ghazali, setidaknya ada dua tahap “kimia” kebahagiaan yang harus dilalui, yaitu mengenal diri sendiri dan mengetahui Allah Ta’ala. Dua fase tersebut akan membawa manusia untuk mencapai puncak kebahagiaan.

Dalam kitabnya itu, al-Ghazali menjelaskan bahwa kunci untuk mengenal Allah (makrifatullah) ialah mengenali diri sendiri. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Alquran surah al-Fushshilat ayat 53. Artinya, “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah kebenaran bagimu.” Rasulullah SAW juga pernah bersabda, “Siapa yang mengenal dirinya, maka ia telah mengenal Tuhannya.”

Lebin lanjut, al-Ghazali juga menjelaskan bahwa kebahagiaan yang sempurna tergantung pada tiga potensi, yaitu amarah, syahwat, dan ilmu. Ketiganya ada bukan untuk saling meniadakan. Seyogianya, seorang insan bisa menyelaraskan semua potensi tersebut agar tercapailah kebahagiaan yang hakiki. Kalau tidak begitu, niscaya dirinya akan galau dan sengsara. Misalnya, ketika amarah lebih unggul, maka yang muncul ialah kebodohan. Atau, jika syahwat lebih unggul, yang lahir ialah keserampangan.

Al-Ghazali menjelaskan, semestinya seorang Muslim menempatkan potensi syahwat dan amarah di bawah kendali akal. Keduanya jangan melakukan apa pun kecuali atas perintah akal. Jika akal telah berposisi demikian, maka orang itu layak disebut memiliki akhlak yang mulia. Inilah bagian dari benih-benih kebahagiaan.

photo

Dalam Resep Bahagia Imam al-Ghazali, terekam pula petuah-petuah sang sufi, khususnya yang bersumber dari kitab Ayyuha al-Walad. Di dalamnya, ulama dari masa keemasan peradaban Islam itu memaparkan banyak nasihat kepada para muridnya.

Menurut al-Ghazali, ada dua macam nasihat, yakni yang berbicara dan yang diam. Pertama itu ialah Alquran, sedangkan yang terakhir merupakan kematian. Alquran dan maut sudah cukup sebagai nasihat bagi orang-orang yang beriman. Siapa saja yang tidak mengambil hikmah dari Kitabullah dan kematian, tidak pantas untuk menasihati orang lain.

Buku ini kemudian ditutup dengan pembahasan kitab Risalah at-Thair, yang berarti risalah burung. Di dalamnya, sang penulis menyajikan cerita alegori tentang sebuah usaha, pengorbanan, pencarian, dan keberhasilan.

Dengan membaca buku terjemahan ini, pembaca akan lebih mudah untuk mengetahui pemikiran dan ajaran Imam al-Ghazali. Terlebih lagi, karya yang terbit pada Oktober 2021 itu menjahit kedelapan kitab sekaligus dari karya sang alim. Kualitas penerjemahan yang sangat baik juga menjadi salah satu kelebihan dari buku ini. Untuk mereka yang kurang menguasai bahasa Arab, membaca risalah ini adalah opsi yang layak diambil.

Sumber: Republika

Subscribe

- Never miss a story with notifications

- Gain full access to our premium content

- Browse free from up to 5 devices at once

Latest stories

spot_img