7.8 C
London
Sunday, April 2, 2023
HomeChinaFYI! China Borong 62 Ton Emas, Tanda Resesi Dunia Telah Tiba?

FYI! China Borong 62 Ton Emas, Tanda Resesi Dunia Telah Tiba?

Date:

Related stories

WHO Pecat Salah Satu Direkturnya yang Dituduh Rasis

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memecat pejabat puncaknya di...

Miliki 2.400 Perusahaan Startup, Airlangga Optimistis Indonesia Kuasai Ekonomi Digital di ASEAN

JAKARTA, duniafintech.com – Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat saat ini Indonesia...

Peristiwa Langka, Media Afghanistan Tayangkan Seluruh Pembicara Perempuan

Siaran media Afghanistan Tolo News menayangkan panel yang semuanya perempuan di...

Fokus di Konsumsi, Ekonomi Digital RI Tertinggal Jauh dari India

Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat ekonomi digital...

Indonesia Tegaskan Dukung Palestina

Dunia tidak boleh mengabaikan dan menerapkan standar ganda terkait...
spot_imgspot_img

Bank sentral China (People’s Bank of China/PBoC) memborong emas dalam jumlah yang besar dalam dua bulan terakhir. World Gold Council (WGC) pada Jumat (6/1/2023) melaporkan bank sentral China (PBoC) memborong emas sebanyak 32 ton pada November 2022.

Pembelian emas oleh PBoC adalah yang pertama kali sejak September 2019 atau lebih dari tiga tahun lalu.

Kemudian pada akhir pekan lalu, PBoC mengumumkan pembelian emas sebesar 30 ton pada Desember 2022. Dengan demikian, dalam dua bulan PBoC memborong 62 ton emas.

Tidak hanya China, bank sentral lainnya juga memborong emas pada tahun lalu. WGC melaporkan jumlah pembelian tersebut menjadi yang terbesar dalam 55 tahun terakhir.

Seperti diketahui, 2023 diperkirakan akan menjadi tahun yang berat. Sepertiga dunia diperkirakan akan mengalami resesi.

“Kami memperkirakan sepertiga dari ekonomi dunia akan berada dalam resesi,” kata Kristalina Georgieva, Direktur Pelaksana IMF kepada CBS, dikutip Reuters, Senin (2/1/2023).

Mesin utama pertumbuhan yaitu Amerika Serikat (AS), Eropa, dan China, semuanya mengalami aktivitas yang melemah.

“Tahun 2023 akan lebih sulit dari tahun lalu karena ekonomi AS, Uni Eropa dan China akan melambat”, pungkasnya.

Saat resesi terjadi, emas merupakan salah satu primadona dalam investasi. Tetapi sepanjang tahun lalu harga emas justru melempem.

Melansir data Refinitiv, emas tercatat melemah 0,22% sepanjang 2022 ke US$ 1.824/troy ons, bahkan sebelumnya sempat jeblok ke US$ 1.613/troy ons, level terendah sejak April 2022.

Pelemahan tipis pada 2022 terbantu reli harga emas sejak November, saat China mulai memborong logam mulia ini.

Sepanjang November 2022 emas tercatat melesat 8,3%, kemudian pada Desember naik lagi 3,2%.

Di pekan pertama 2023, harga emas dunia langsung melesat 2,3%.

Dengan gelapnya ekonomi dunia pada 2023, harga emas yang malah jeblok pada tahun lalu tentunya menjadi terlihat murah. Apalagi, dengan proyeksi adanya pelonggaran kebijakan moneter dunia ketika resesi terjadi dan inflasi mulai menurun, emas tentunya akan sangat diuntungkan, harganya bisa melesat tinggi.

Bank sentral yang memborong emas pada tahun lalu tentunya sudah mendapat keuntungan, nilai cadangan devisanya menjadi menanjak.

Sementara itu kepala riset BullionVault, Andrian Ash mengatakan Amerika Serikat dan sekutu yang membekukan cadangan devisa Rusia dalam bentuk dolar AS menjadi salah satu pemicu bank sentral kembali memborong emas.

“Langkah bank sentral kembali ke emas menunjukkan latar belakang geopolitik saat ini adalah ketidakpercayaan, keraguan dan ketidakpastian setelah Amerika Serikat dan sekutu membekukan cadangan devisa Rusia,” kata Ash sebagaimana dikutip Financial Times, Kamis (29/1/2022).

Melesatnya harga emas juga tidak lepas dari adanya tanda-tanda resesi di Amerika Serikat. Institute for Supply Management (ISM) Jumat lalu melaporkan sektor jasa Amerika Serikat mengalami kontraksi untuk pertama kalinya dalam dua setengah tahun terakhir.

ISM melaporkan purchasing managers’ index (PMI) jasa turun menjadi 49,6 jauh dari bulan sebelumnya 56,5. Angka di bawah 50 berarti kontraksi, sementara di atasnya adalah ekspansi.

Untuk diketahui sektor jasa merupakan kontributor terbesar produk domestik bruto (PDB) AS berdasarkan lapangan usaha. Kontribusinya tidak pernah kurang dari 70%.

Kontraksi sektor jasa tentunya menjadi sinyal kuat negara dengan nilai perekonomian terbesar di dunia ini sebentar lagi akan mengalami resesi.

Ekonom Bank of America memprediksi Negeri Paman Sam akan mengalami resesi di juga di kuartal I-2023, saat PDB-nya mengalami kontraksi 0,4%

“Kabar buruknya di 2023, proses pengetatan moneter akan menunjukkan dampaknya ke ekonomi,” kata ekonom Bank of America, Savita Subramanian, sebagaimana dilansir Business Insider, akhir November lalu.

Subscribe

- Never miss a story with notifications

- Gain full access to our premium content

- Browse free from up to 5 devices at once

Latest stories

spot_img